Inilah Cara Menanggulangi Risiko Investasi P2P Lending

Inilah Cara Menanggulangi Risiko Investasi P2P Lending

Ketika seseorang melakukan penanaman dana pada sebuah lembaga keuangan umumnya ingin return yang tinggi. Namun dibalik tingginya imbal hasil mereka dengan sadar dihadapkan berbagai risiko investasi. Contohnya saja risiko kredit, likuiditas, operasional.

Semua risiko itu dapat diminimalkan memakai beragam cara. Artikel ini menjelaskan secara singkat penanggulangan risiko yang dihadapi oleh investor P2P Lending. Apa saja cara yang dapat diterapkan investor supaya kegiatan investasi online dengan P2P lancar? Inilah caranya!

  1. Pilihlah Lembaga P2P Lending Terpercaya

Cara pertama dapat dilakukan dengan memilih perusahaan investasi yang baik. Cirinya biasanya perusahaan telah mendapat ijin dan diawasi pihak OJK.  Karena memakai sistem online investor bisa langsung memeriksa.

Investor dapat melihat pada website milik OJK.  Website mereka akan muncul nama-nama lembaga P2P lending. Sampai saat ini sudah ada 127 perusahaan yang telah dijamin OJK. Jumlah itu masih bisa bertambah. Total 127 perusahaan fintech itu ada 8 yang bersistem syariah loh. Bagi yang ingin ke P2P syariah silahkan pilih lembaganya.

  1. Berinvestasi Dimulai Dari Dana Terkecik

Langkah kedua dengan menempatkan dana dari nominal paling kecil dari kebijakan yang ditentukan oleh lembaga pilihan Anda. Karena setiap perusahaan P2P lending itu memiliki batasan minimal nominal penyetoran dana berbeda-beda.

Bahkan untuk investor pemula sekalipun ada lembaga yang memberikan batasan minimal senilai 100 ribu rupiah. Lumayan bukan? Kalau ingin merasakan sensasi jadi investor level dasar, mulailah dari angka itu. Seiring berjalannya waktu deposit dapat ditingkatkan lagi, jadi tak perlu risau.

  1. Pilih Lembaga Dengan Tingkat NPL Rendah

NPL jika dikaitkan dengan investor memiliki makna mendalam. Karena NPL itu berhubungan dengan profil risiko dari peminjam. Nilainya berupa rasio yang ditunjukkan dalam bentuk persentase. Jadi besaran NPL wajar yakni senilai 1%-3%. Ini menunjukkan keberhasilan lembaga dalam melakukan seleksi peminjam.

Sehingga kedepannya tidak akan terjadi peminjam yang memiliki tunggakan pembayaran atau tidak membayar sama sekali. Analisanya digambarkan seperti ini: semakin kecil nilai persentasenya maka semakin baik risiko kredit yang dihadapi investor.

  1. Periksa Secara Teliti Profil Peminjam

Jika Anda telah tergabung dalam sebuah perusahaan fintech. Maka akan tersedia detail informasi peminjam. Sebagai contoh informasi usaha, keuangan dan track record selama menjadi peminjam di lembaga P2P. Melalui ragam informasi tersebut dapat dilihat sebuah rasio.

Rasio itu bernama DSCR (debt service coverage ratio). Rasio ini penting Anda pakai untuk memahami keuangan peminjam. Jika nilai yang ditampilkan lebih dari 1 atau 100%, maka dia selalu sanggup bayar tanggungan tepat waktu. Hal itu menjadi keuntungan investor. Investor tidak akan menderita karena keterlambatan pembayaran angsuran ataupun kredit macet.

  1. Diversifikasi

Metode terakhir berupa diversifikasi risiko. Saat Anda masuk dalam lembaga P2P lending. Bersiaplah untuk memilih beberapa peminjam dengan pemberian rating yang berbeda. Biasanya investor pemula lebih memilih rating B,A,A+. Karena risiko dari ketiga rating tersebut kecil.

Hasil yang diterima tidak sebesar rating C. Tetapi untuk urusan minimal risiko lebih baik ketiga rating itu saja. Dengan begitu keberlangsungan Anda investasi bisa berlanjut.

Itulah cara mudah untuk membuat risiko yang hinggap pada Anda kecil. Mudah diterapkan bukan? Siapa saja bisa menerapkannya. Jadikanlah lima alat tersebut sebagai senjata ampuh saat memasuki lembaga fintech P2P. Karena amunisi untuk menangkal risiko itu penting. Meskipun posisi Anda masuk kategori investor pemula.